Visi Gaza Trump Picu Ketegangan AS-Eropa
Munich: Diplomat Uni Eropa mengkritik pembentukan 'Board of Peace' yang dinilai mengabaikan peran PBB dan kedaulatan Palestina.
Perpecahan diplomatik antara Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait masa depan tata kelola Jalur Gaza kini pecah ke ranah publik.
Dalam forum Munich Security Conference pada Jumat 13 Februari 2026, para petinggi Eropa melontarkan kritik tajam terhadap inisiatif "Board of Peace" yang digagas Presiden Donald Trump.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, memperingatkan bahwa badan tersebut berisiko menjadi instrumen politik pribadi tanpa akuntabilitas yang jelas kepada warga Palestina maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kallas menyoroti adanya penyimpangan mandat dari resolusi awal Dewan Keamanan PBB.
"Statuta Board of Peace saat ini sama sekali tidak merujuk pada Gaza atau PBB.
Padahal, mandat awalnya adalah untuk membantu Gaza dengan batasan waktu hingga 2027 serta memberikan hak suara bagi warga Palestina," ujar Kallas dalam pidatonya.
Kekhawatiran Transparansi Dana
Kritik serupa datang dari Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares.
Ia menuding pihak Gedung Putih mencoba memangkas keterlibatan Eropa, meskipun negara-negara Benua Biru merupakan penyumbang dana terbesar bagi Otoritas Palestina.
Di sisi lain, Senator Demokrat Chris Murphy turut menyuarakan kekhawatiran domestik.
Ia menilai struktur badan tersebut minim pengawasan, yang dikhawatirkan dapat membuka celah penyalahgunaan dana rekonstruksi senilai miliaran dolar.
Perspektif Washington:
'Multilateralisme Terfokus'
Menanggapi gelombang kritik tersebut, Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, membela kebijakan Trump sebagai langkah untuk memecah kebuntuan konflik yang berkepanjangan.
Waltz menyebut pendekatan ini sebagai "multilateralisme terfokus" dan menilai sistem PBB perlu dievaluasi dalam upaya perdamaian.
"Kita perlu mengembalikan PBB pada fungsi dasar perdamaian dan mengakhiri status quo yang membiarkan konflik terus berlanjut," tegas Waltz.
Ia juga mengonfirmasi bahwa Indonesia telah berkomitmen mengirimkan 8.000 personel pasukan stabilitas internasional untuk menjaga keamanan di wilayah tersebut.
Tantangan di Lapangan
Utusan khusus yang ditunjuk Trump untuk Gaza, Nickolay Mladenov, mendesak semua pihak untuk bergerak cepat guna mencegah eskalasi perang kembali pecah.
Fokus utamanya saat ini adalah:
Peningkatan bantuan kemanusiaan secara masif.
Komisioner senjata dari seluruh faksi di Gaza.
Penyatuan kembali tata kelola wilayah Gaza yang saat ini terbelah.
Namun, aktivis Palestina Mustafa Barghouti memperingatkan bahwa perdebatan birokrasi ini berisiko kehilangan relevansi dengan realitas di lapangan.
Ia menekankan bahwa tanpa langkah nyata menghentikan perluasan permukiman, solusi dua negara terancam tinggal sejarah.
Perselisihan ini muncul hanya beberapa hari sebelum pertemuan krusial Board of Peace yang dijadwalkan berlangsung di Washington pada pekan depan (*)
