Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

UEFA dan Perdana Menteri Inggris Kritik Rencana Investasi FIFA

Inggris Rencana investasi FIFA dinilai sudah kelewat batas oleh UEFA dan Perdana Menteri Inggris.
UEFA dan Perdana Menteri Inggris Kritik Rencana Investasi FIFA
UEFA dan Perdana Menteri Inggris Kritik Rencana Investasi FIFA

Rencana Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk membentuk perusahaan senilai 20 miliar dolar Amerika Serikat (Rp362 triliun) untuk mengelola Piala Dunia menuai kritik dari sejumlah pihak, di antaranya Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dan Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham. Mereka menilai langkah tersebut sudah melewati batas.

Ini bukan kali pertama FIFA era kepemimpinan Infantino mencoba memprivatisasi aset sepak bola. Pada 2018, ia mengusulkan proyek bernilai miliaran dolar AS untuk menciptakan lebih banyak kompetisi global yang didanai investor swasta.

Untuk kali ini, Infantino berencana membentuk anak perusahaan komersial bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang nantinya akan mengelola Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub. Ia akan menggandeng investor swasta, termasuk perusahaan investasi Thrive Eternal milik Joshua Kushner, saudara Jared Kushner, menantu Presiden AS, Donald Trump.

Dalam pernyataannya, FIFA menyebut FFE akan menghimpun dana hingga Rp76 triliun pada akhir tahun ini untuk membantu mendanai program-program pengembangan sepak bola. Penggalangan dana itu didasarkan pada valuasi awal FFE sebesar 20 miliar dolar AS (Rp362 triliun).

"Ini telah melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh lembaga pengelola sepak bola. UEFA memandang persoalan ini sangat serius. Demikian pula seharusnya setiap federasi sepak bola nasional," demikian pernyataan UEFA, dikutip dari The Times, Rabu (29/7/2026).

Menurut UEFA, jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang dapat diperjualbelikan. Terlebih rencana FIFA ini dilakukan tanpa transparansi mengenai siapa yang nantinya bakal mendapatkan keuntungan finansial.

Sehari sebelum final Piala Dunia 2026 digelar, Infantino memimpin pertemuan dengan para anggota FIFA di Manhattan, AS. Ia berjanji akan membuka seluruh potensi dan peluang komersial yang ada. Tujuannya agar 211 federasi sepak bola nasional dapat menikmati bantuan program FIFA Fast-Forward.

Melalui skema tersebut, bantuan pengembangan untuk setiap anggota FIFA akan meningkat dari Rp148 miliar pada siklus komersial 2027-2030 menjadi Rp361 miliar. Nilainya kemudian naik lagi menjadi Rp397 miliar dan Rp433 miliar pada siklus berikutnya.

Yang paling disorot dari rencana ini ialah laporan mengenai jabatan baru layaknya Chief Executive Officer (CEO) atau komisaris dalam operasional FFE berpotensi diciptakan untuk Infantino. Namun, FIFA membantah spekulasi tersebut.

"Hal itu tidak pernah dibahas. Namun, Presiden FIFA dan administrasi FIFA akan dan memang harus memiliki peran utama dalam entitas ini, apabila nantinya disetujui," demikian pernyataan FIFA.

Sepak Bola Bukan Milik Investor

Andy Burnham ikut mengkritik rencana FIFA untuk memprivatisasi turnamen sepak bola yang berada di bawah naungannya. Menurut pria yang dikenal sebagai penggemar Everton tersebut, Piala Dunia bukanlah sebuah produk yang harus selalu dihitung nilai komersialnya.

FIFA sebagai organisasi tertinggi juga tak bisa mengklaim sebagai pemilik turnamen. Karena bagi Burnham, ajang olahraga terbesar di dunia ini sejatinya dimiliki oleh para suporter. Tanpa mereka, Piala Dunia takkan mungkin bisa sampai ke titik saat ini.

"Izinkan saya menyampaikan ini dengan sangat tegas. Sepak bola bukan milik para investor. Sepak bola adalah milik orang-orang yang memenuhi tribun stadion dan yang berdiri di pinggir lapangan setiap pekan, dalam hujan maupun panas," ujar Burnham.

"Piala Dunia bukanlah sebuah produk. Ini adalah kompetisi terbesar dalam olahraga dunia, dan sejak awal tidak pernah menjadi milik siapa pun untuk dijual. Silakan kemas kesepakatan ini dengan cara apa pun. Begitu Anda menjual sebagian darinya, berarti Anda telah menjual habis nilai-nilainya."

Asosiasi Suporter Sepak Bola (FSA) juga sudah angkat bicara mengenai hal ini. Mereka mengecam proposal yang dikeluarkan oleh FIFA dan menyebutnya sebagai titik terendah baru yang dilakukan oleh Infantino dan jajarannya.

"Banyak suporter pulang dari Piala Dunia dengan keyakinan FIFA tidak mungkin lagi melakukan sesuatu yang lebih buruk terhadap turnamen sepak bola terbesar yang kami cintai. Namun, bahkan belum dua pekan sejak peluit akhir final dibunyikan, mereka kembali membuktikan bahwa selalu ada titik terendah baru."

"Seperti banyak pihak di dunia sepak bola, kami sangat marah. Kami akan mempelajari detail proposal ini ketika seluruh informasinya tersedia, tetapi sebagai suporter kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk melawan rangkaian keputusan yang secara serius mengancam masa depan sepak bola demi keuntungan komersial jangka pendek."

"Hal ini tidak boleh menjadi langkah lanjutan dalam upaya Gianni Infantino membentuk ulang sepak bola tanpa memedulikan para suporter maupun kepentingan permainan itu sendiri. Kami sepenuhnya mendukung pernyataan UEFA."

"Kini setiap badan pengelola, asosiasi sepak bola nasional, liga, klub, suporter, dan seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab untuk bersatu melindungi masa depan sepak bola."(*)

Hide Ads Show Ads