Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Saudi Serang Balik Houthi di Yaman

Riwayah : Saudi Arabia Siapkan Operasi Militer Besar di Yaman

Pasukan Saudi terlihat mundur dari Yaman bagian timur sebagai persiapan untuk kemungkinan serangan darat. (Foto: Zain Jaafar/AFP)
Pasukan Saudi terlihat mundur dari Yaman bagian timur sebagai persiapan untuk kemungkinan serangan darat. (Foto: Zain Jaafar/AFP)

Eskalasi geopolitik di kawasan Teluk kembali memanas setelah Saudi Arabia dikabarkan tengah mengonsolidasikan kekuatan militer untuk melancarkan operasi besar-besaran, baik melalui jalur laut maupun darat di wilayah Yaman Tengah Kamis 30 Juli 2026.

Strategis ini diambil Riyadh guna memecah blokade yang mengancam jalur ekspor minyak vital kerajaan melalui Laut Merah bagian selatan.

Berdasarkan laporan Media Ryardh di Yaman, pasukan Saudi telah ditarik dari wilayah timur negara tersebut. Pergerakan taktis ini diidentifikasi oleh para pengamat sebagai persiapan matang menuju invasi darat. 

Secara bersamaan, diplomasi pertahanan gencar dilakukan Riyadh untuk membentuk koalisi maritim multinasional demi mengamankan jalur pelayaran komersial dari ancaman milisi Houthi di Laut Merah serta Selat Bab al-Mandab.

Kementerian Pertahanan Saudi Arabia menyampaikan bahwa 14 negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti, telah merilis pernyataan bersama untuk mendukung koalisi pertahanan maritim tersebut.

 Selain itu, Riyadh secara resmi telah meminta Amerika Serikat serta sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Inggris, dan Italia untuk turut bergabung dalam aliansi keamanan Laut Merah.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran, yang saat ini menguasai ibu kota Sanaa serta sebagian besar garis pantai Laut Merah, sebelumnya mendeklarasikan penerapan blokade terhadap kapal-kapal Saudi. 

Kendati demikian, kelompok tersebut membantah rencana penerapan tarif tol bagi seluruh kapal niaga yang melintas. Pihak Houthi menegaskan bahwa blokade ini akan dicabut apabila Saudi Arabia mengakhiri blokade yang diberlakukan terhadap Yaman.

Konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade ini kembali membara setelah serangkaian serangan menyasar fasilitas minyak milik Saudi Aramco dalam dua pekan terakhir. Serangan udara Saudi sebelumnya juga telah menghantam basis pertahanan Houthi di Pelabuhan Hodeidah, menyusul insiden penyerangan terhadap kapal komersial milik kerajaan.

Di tengah situasi yang kian kompleks, Menteri Pertahanan Saudi Arabia, Pangeran Khalid bin Salman, dilaporkan telah menggelar pertemuan darurat tingkat tinggi dengan Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance guna membahas langkah-langkah strategis lanjutan. Meski menunjukkan ketegasan dalam melindungi infrastruktur industri nasional, Riyadh dikabarkan tetap membuka ruang diplomasi guna meredakan ketegangan dengan Iran.

Konsentrasi pasukan darat saat ini dilaporkan mengarah ke Provinsi Al-Bayda, sebuah wilayah strategis di Yaman tengah-selatan yang dikuasai oleh Houthi sejak periode 2020 hingga 2021. 

Hingga kini, upaya diplomasi yang dimediasi oleh Oman masih terus berlanjut guna mencari solusi damai atas kebuntuan geopolitik di Selat Hormuz dan Laut Merah.(*)

Hide Ads Show Ads